Inilah Alasan Penting Sebuah Aliansi Militer Bagi Suatu Negara

 


Mengenal Pentingnya Aliansi Militer Bagi Negara-Negara

    Aliansi adalah hal yang konstan dibentuk dalam politik internasional sepanjang sejarah. Mulai dari era Yunani kuno, Abad Pertengahan, bahkan hingga era modern sekarang, negara-negara selalu membentuk aliansi. Pembahasan mengenai hubungan internasional tidak mungkin dilakukan tanpa menyinggung aliansi. Termasuk di antaranya aliansi militer yaitu komitmen formal maupun informal yang menyangkut keamanan antara negara-negara, dan berbentuk komitmen dukungan militer mutual terhadap aktor eksternal dalam situasi tertentu.

Aliansi militer dapat dibagi menjadi tiga jenis:

1. Pakta Pertahanan: bila satu negara anggota diserang, yang lain ikut membantu secara militer

2. Pakta Non-Agresi atau Netralitas: sesama anggota akan netral secara militer, apapun tindakan yang dibuat ke negara-negara di luar pakta

3. Entente: anggota-anggota berkonsultasi satu sama lain, atau mungkin bekerjasama dalam situasi krisis

Mengapa negara-negara membentuk aliansi militer? Ada tiga alasan umum.

    Alasan pertama sifatnya idealistik yakni persamaan ide, nilai-nilai, maupun kepentingan nasional dari negara-negara yang berbeda.

    Alasan kedua sifatnya teknis. Aliansi memungkinkan digabungnya kapabilitas antar negara-negara yang berbeda –bisa industri, finansial, maupun militer. Ini menghasilkan penghematan biaya dan meningkatnya keuntungan sebuah negara secara berlipat ganda karena pembagian beban untuk tugas tertentu bersama negara-negara lain. Aliansi juga dapat menjamin proteksi karena anggota yang kuat dapat melindungi anggota yang lemah.

    Alasan ketiga ditarik dari dua alasan pertama. Aliansi adalah sebuah tindakan yang dicapai untuk meraih tujuan tertentu (means to an end.) Artinya, negara-negara yang ingin mencapai kesuksesan politik maupun militer tertentu, dapat memenuhinya bersama-sama dengan memasuki suatu aliansi.

Apakah pentingnya aliansi militer bagi suatu negara? Berikut penjabarannya:

1. Aliansi militer mengurangi terjadinya konflik. Bukan mencegah setiap konflik, namun negara-negara yang memiliki sekutu resikonya lebih rendah untuk diserang. Aliansi defensif dapat bertindak sebagai deteren yang membuat negara lain berpikir dua kali sebelum menggunakan kekerasan, karena naiknya biaya yang harus dibayar untuk melakukan agresi.

2. Aliansi untuk memfasilitasi proyeksi kekuatan secara luas, dan mengontrol lawan di berbagai front. Pembangunan pangkalan-pangkalan di negara lain yang juga anggota aliansi, dapat memperpanjang jangkauan kekuatan dan pengaruh sebuah negara jauh di luar wilayahnya sendiri. Adanya jaringan pangkalan di luar negeri ini yang dapat dipakai akan menambah kebebasan untuk bergerak di berbagai belahan dunia. Ini penting untuk merespon lawan-lawan yang juga berada di berbagai kawasan dunia, dan juga mengisolasi mereka secara geografis.

3. Aliansi untuk mengontrol anggota-anggotanya. Adanya aliansi berarti anggota dapat dikendalikan, maksudnya agar tidak bertindak gegabah sendirian. Dalam bentuk kerjasama sebagai aliansi pastinya ada proses pengambilan keputusan terlebih dahulu sebelum sebuah tindakan dijalankan atas nama bersama. Manajemen hubungan antara negara di aliansi tersebut menjadi sesuatu yang sangat penting.

4. Aliansi untuk balancing. Ketika sebuah negara di tingkat regional berusaha mengganggu status quo, negara-negara lainnya yang lebih kecil dapat memilih untuk menjaga kepentingan dan kemerdekaan mereka dengan bersatu melawan negara tersebut (balancing) atau ikut-ikutan negara tersebut karena tidak ada harapan lagi dan mereka tidak ingin digilas langsung (bandwagoning.) Adanya aliansi memfasilitasi negara-negara untuk melakukan balancing. Anggota aliansi di kawasan tertentu dapat menjadi pusat bagi negara-negara yang ingin melakukan balancing dan melawan ancaman dari negara lain.

5. Aliansi dapat menahan gerak laju lawan. Jika konflik pecah, bahkan bila negara-negara yang lemah tidak dapat membendung serangan lawan, mereka dapat menahan gerak laju lawan seraya menunggu negara yang kuat untuk turun membantu. Negara yang kuat tersebut sendiri tidak bisa 100% diharapkan karena mungkin harus memprioritaskan respon ancaman dari beragam arah dengan defense establishment yang terbatas, sehingga aliansi menjadi sesuatu yang penting.

6. Aliansi adalah pilihan yang hemat biaya. Penjagaan perdamaian dan penopangan sistem politik dan ekonomi global dapat dicapai secara cost-effective lewat dukungan sekutu. Kehadiran kekuatan militer di negara-negara lain secara ekstensif yang ditanggung sendiri maupun penyiagaan mayoritas kekuatan di negara sendiri untuk dipakai di wilayah lain memang bisa saja, namun bukanlah opsi termurah yang ada.

    Apakah sebuah negara yang sebagai anggota aliansi, memanggil aliansinya untuk turun ke dalam konflik adalah negara yang pengecut? Tidak. Sudah jelas dari penjelasan di atas bahwa adanya aliansi memberikan benefit yang jauh lebih banyak dibanding bertempur sendiri. Negara-negara yang membawa aliansi ke dalam konflik sendiri belum tentu “hanya berani keroyokan.” Negara seperti AS yang mempunyai 11 carrier battle group dan kehadiran AL di tingkat global pun –yang menegaskan bahwa mereka dapat menangani konflik yang pecah bersamaan di beberapa front –masih tetap melibatkan sekutu-sekutunya dalam operasi militer.

“Kalau berani, mengapa tidak perang satu-lawan-satu saja?”

    Satu lawan satu, atau “fair fight” hanya ada dalam sebuah duel/pertandingan, dimana kedua pihak telah setuju untuk “bertempur” dan syarat-syarat dalam “pertempuran” itu sudah jelas.

    POLITIK INTERNASIONAL BUKANLAH DUEL ATAU PERTANDINGAN. Tidak ada jaminan pasti, banyak sekali hal-hal yang terjadi di luar ekspektasi. Orang-orang Jerman memutari tembok pertahanan Perancis dan menaklukan negara tersebut dengan singkat tanpa menghadapinya. Orang-orang Jepang menyerang pangkalan AL AS secara dadakan dengan kapal induk dan melumpuhkan banyak battleship yang waktu itu dianggap sebagai kapal utama (capital ship.) Jerman menyerang Soviet meskipun telah menandatangani pakta non-agresi di awal PD II.

    Seorang Kolonel David Hackworth pernah berkata, “if you find yourself in a fair fight, you didn’t plan your mission properly.” Artinya bila seseorang masuk ke dalam situasi fair fight, ia tidak merencanakan misinya dengan benar. Semua kesempatan yang ada untuk mendapat keuntungan ekstra harus diambil. Ini karena prioritas dalam sebuah perang adalah menang, untuk menjaga survival negara. Bukan masalah “adil atau tidak”, melainkan “selamat atau binasa.”

sumber :

[1]https://index.heritage.org/

[2]https://csis-prod.s3.amazonaws.com/

[3]lightning II-chan

 

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post